Filed under: Catatan Ringan
Well ada suatu cerita yang menarik dari kuliah “pengulangan” kemaren. ada satu poin penting yaitu kisah si tukang mie ayam. dosen itu bercerita beberapa waktu yang lalu dia makan mie ayam di daerah masjid lao tse di daerah pasar baru sana. nah disitu ada seorang penjual mie ayam berkebangsaan cina. nah iseng2 dia makan di situ. dia mengamati si penjual mie ayam ini dalam mengaduk, memberikan bumbu dan mengolahnya ada suatu hal yang sangat khas dan tidak ada pada penjual mie ayam.
dalam mencampur dengan bumbunya itu dia melakukannya dengan hati-hati dan penuh perasaan. begitupun setelah semua proses selesai dengan lembut tukang mie ayam itu berkata kepada sang dosen seperti ini “silahkan, di nikmati hidangannya ya mas. .” dan benar mie tersebut terasa beda dengan mie ayam yang laen sekalipun sama seluruh bumbunya. ketika di ajak bercerita dan ditanyakan kepadanya kenapa dia mengaduk sedemikian rupa sehingga rasanya jauh lebih khas dan jauh lebih enak, dia hanya menjawab simple but dapet “Maaf mas saya seorang muslim, di Al-Quran mengajarkan kita dalam melakukan segala sesuatu itu harus sebaik-baiknya. demikian juga dalam menjual mie ayam ini. saya ini penjual yang memberikan makanan kepada manusia. udah seyogyanya manusia itu dilayani seperti itu. bukan seperti yang mas liat selama ini. Allah aj memberikan kita napas secara teratur, masa’ manusia tidak bisa memberikan segala sesuatu secara teratur pula?”
Well mungkin ini yang bisa dimasukkan dalam blog kali ini. karena ini keknya ada nilai positif untuk diri saya utamanya dan teman2 sekalian pada umumnya yang suka ngebaca blog ini.
